Kamis, 08 Mei 2014

kenapa Orang Palembang mirip orang China

Kenapa mayoritas orang Palembang di Sumatra
Selatan mirip China, walau ia
beragama Islam? Itulah sebagian 'sisa hidup'
peninggalan Kerajaan Sriwijaya
yang pernah
berjaya di kawasan Asia. Kerajinan tenun songket
khas Palembang, pakaian
adat Palembang yang mirip China, dan tari-
tarian tradisional, termasuk
peninggalan Sriwijaya yang hingga kini masih
dapat kita nikmati. Apakah
empek-empek juga termasuk jenis udapan yang
sudah dikenal pada masa
Sriwijaya berjaya? Mungkin saja begitu.
Pada abad ke 7 hingga 13 M, Sriwijaya
mengalami zaman keemasan. Sebagai
kerajaan maritim, namanya dikenal hingga ke
mancanegara. Kekuatan maritim dapat
dilacak dari peninggalan kemudi kapal Sriwijaya
yang ditemukan di
Sungai Buah, Palembang, pada 1960-an. Kemudi
yang terbuat dari kayu onglen
hitam itu panjangnya mencapai delapan meter.
Tak heran kalau armada kapal
milik Sriwijaya mampu berlayar ke China dengan
membawa komoditas perkebunan,
seperti cengkeh, pala, lada, timah, rempah-
rempah, emas, dan perak.
Barang-barang itu dibeli
atau ditukar dengan porselin, kain katun, atau
kain sutra.
Pada masa kegemilangannya, banyak pendatang
dari mancanegara singgah ke
Sriwijaya sekadar untuk tetirah atau berniaga.
Beragam jenis kapal bertambat
di pelabuhan Sungai Musi. Mereka juga
bermukim di kerajaan yang dulunya
menjadi pusat pendidikan ajaran Budha dan ilmu
pengetahuan. Beberapa bangsawan
dan orang kebanyakan menikah dengan
pendatang dari China. Tak heran kini mayoritas
orang Palembang kebanyakan
berkulit kuning langsat dan bermata sipit.
Apabila para bangsawan Sriwijaya tak
dibantai habis
pasukan Majapahit, kemungkinan mereka adalah
keturunannya. Nasib ribuan
pendeta Budha juga tak jelas hingga kini.
Apakah mereka dihabisi pasukan
Majapahit atau menyingkir ke Tanah Jawa,
Thailand, China, dan India? Atau
mereka harus berganti agama kala Islam masuk
ke bekas kerajaan Sriwijaya? Tapi
yang jelas,
sebagian dari mereka adalah keturunan para
pedagang China, dan juga para bajak
laut asal
China yang menguasai jalur sungai dan laut
selama 200 tahun lamanya,
usai Sriwijaya hancur lebur diserbu Majapahit.
Keganasan para perompak itu
berakhir setelah Panglima Perang Chengho yang
diutus penguasa China datang dan
memerangi mereka.
Sebagian perompak yang selamat dari serbuan
Chengho, lalu alih usaha
di daratan, beranak pinak, dan membentuk
koloni tersendiri. Mereka
memutus tradisi dan nilai-nilai yang berkembang
di tanah leluhur bangsa China,
dan
sebaliknya menanamkan kehidupan khas
perompak yang berangasan. Sebuah
tugu prasasti di Kampung Kapiten, Kelurahan
Tujuh Ulu, Kecamatan Seberang
Ulu I, Palembang, menunjukkan pemujaan
kepada Dewa Samudra, sebagai peringatan
adanya komunitas China yang menetap di
Palembang. Adakah kaitan
antara mereka dan 'Preman Palembang' yang kini
tersohor itu? Sepertinya
perlu ada penelitian yang lebih mendalam. Kalau
di Palembang ada Kampung Jawa,
bisa jadi mereka adalah keturunan pasukan
Majapahit yang menetap disana.
Secuil peninggalan berbentuk benda mati seperti
arca kini masih bisa Anda simak
di Museum Bala Putradewa, Palembang, Sumatra
Selatan. Tercatat ada 2 museum
lagi di Palembang, yaitu Museum Situs Taman
Purbakala Sriwijaya (TPKS) dan
Museum Sultan Badaruddin II, namun semuanya
tak terawat dengan baik. Perlu ada
upaya pemerintah untuk menyatukan ketiganya,
dan menamai museum itu 'Museum
Sriwijaya'.
Sejak penjajahan Belanda hingga kini, sisa-sisa
kejayaan Sriwijaya berupa
barang antik telah pindah tangan ke luar negeri.
Palembang, Jambi, dan Lampung
adalah padang perburuan
bagi kolektor dan pedagang barang antik. Kini
tak lagi tersisa.
Dimanakah pusat Kerajaan Sriwijaya?
Itulah pertanyaan yang hingga kini masih
menggantung, karena belum juga
ditemukan peninggalan istana atau kraton.
Kemungkinan besar pada saat
penyerbuan pasukan Majapahit, istana tersebut
dibumi hanguskan. Sejumlah
manuskrip dan prasasti tentang kerajaan
Sriwijaya juga banyak yang telah rusak,
hilang, atau masih terkubur dalam tanah.
Ketidak lengkapan temuan arkeologis
tersebut menyebabkan para peneliti kesulitan
menyusun sejarah kemunculan
dan pertumbuhan Kerajaan Sriwijaya secara
lengkap dan runtut.
Sejarah Sriwijaya justru banyak disusun
berdasarkan berita-berita dari
pengelana asing, seperti dari China, India atau
Arab. Setidaknya ada 18 situs
dari masa Sriwijaya di Palembang. Empat situs
diantaranya memiliki penanggalan
sekitar abad ke-7 sampai ke-9, yaitu situs Candi
Angsoka, prasasti Kedukan
Bukit, situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung
Rawa. Beberapa prasasti juga
telah ditemukan, yang isinya menceritakan
keberadaan Sriwijaya dan kutukan bagi
para pembangkang. Beberapa peninggalan
Sriwijaya juga ditemukan di Jambi,
Lampung, Riau, dan Thailand.
Kebesaran Sriwijaya juga terlacak dari
peninggalan di India dan Jawa. Prasasti
Dewapaladewa dari Nalanda, India, abad ke-9
Masehi menyebutkan, Raja
Balaputradewa dari Swarnadipa (Sriwijaya)
membuat sebuah biara. Prasasti
Rajaraja I tahun 1046 mengisahkan pula, Raja
Kataha dan Sriwiyasa
Marajayayottunggawarman dari Sriwijaya
menghibahkan satu wilayah desa
pembangunan biara Cudamaniwarna di kota
Nagipattana. India. Manuskrip sejarah,
seperti Kitab Sejarah Dinasti Song dan Dinasti
Ming, berada di China. Raja
Sriwijaya juga mendukung penuh pembangunan
Candi Borobudur di Pulau
Jawa yang terbuat dari batu gunung. Sedangkan
candi-candi peninggalan
Sriwijaya di Sumatra semuanya terbuat dari batu
bata yang cepat aus dimakan
zaman. Kenapa? Karena lokasinya jauh dari
gunung.
Kabar terakhir datang dari Malaysia. Raimy Che-
Ross, peneliti Malaysia,
pada tahun lalu menemukan sebuah kota yang
hilang di pedalaman Johor.
Rahasia itu terkuak berawal dari sebuah naskah
kuno milik Stamford Raffles.
Ia memperkirakan reruntuhan puing itu berasal
dari kota Gelanggi yang pada 1025
M diserbu pasukan Chola dari India Selatan
pimpinan Raja Rajendra Cholavarman.
Kota itu
dulunya terkait erat dengan Kerajaan Sriwijaya.
Pada 1612, Tun Seri
Lanang, bendahara Royal Court di Johor,
menyebut kota Gelanggi yang
hilang sebagai Perbendaharaan Permata
(Treasury of Jewels). Sebagai
catatan, pasukan Cola bergabung dengan
Kerajaan Majapahit untuk menyerbu
Sriwijaya pada 1377 hingga ludes. Palembang
pun lalu jadi kota mati, dan
tak lama kemudian dikuasai para perompak dari
China. Para bajak laut
itu digempur pasukan China pimpinan Chengho,
armada Majapahit dengan
dukungan Raja Aditiawarman dari Kerajaan
Melayu.
sumber : http://osdir.com/ml/
culture.region.i.../msg00922.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar